Puro Mangkunagaran, atau Istana Mangkunegaran adalah istana resmi Kadipaten Praja Mangkunegaran dan tempat kediaman para penguasanya>

Budidaya Kopi Mangkunegaran

Sortir kopi di perkebunan kopi Karangpandan Tahun 1920
Sortir kopi di perkebunan kopi Karangpandan Tahun 1920

Kopi oleh masyarakat Indonesia biasa disebut kopi, sedangkan di negara lain dikenal dengan coffee (Inggris), cafe (Prancis), kaffee (Jerman) dan qahwa (Arab). Sejarah kopi dapat ditelusuri sekitar abad ke-9 di dataran tinggi Ethiopia. Lalu menyebar ke Mesir dan Yaman dan pada abad ke-15 menjangkau ke Persia, Mesir, Turki dan Afrika Utara. Selanjutnya kopi menyebar ke Eropa, di mana minuman ini populer pada abad ke-17. Penyebaran tanaman kopi ke Indonesia dibawa seorang berkebangsaan Belanda. Kopi Arabika pertama kali ditanam dan dikembangkan di timur Jatinegara menggunakan tanah partikelir Kedawung, kini disebut Pondok Kopi. Pusat-pusat produksi kopi di Jawa pada era 1700-an, meliputi Bogor, Priangan, Cirebon, Kedu, dan Bondowoso.

Mencermati bahwa kopi akan laku keras di pasaran dunia dan untuk membangun perekonomian kerajaan maka Mangkunegaran yang memiliki kondisi geografis tanah pegunungan, seperti daerah Wonogiri, sebagian Karanganyar, dan Karangpandan membudidayakan tanaman kopi. Penanaman kopi di daerah Mangkunegaran dimulai pada tahun 1814. Bibit kopi diperoleh dari Kebun Kopi Gondosini di daerah Bulukerto, Wonogiri.

Tidak lama setelah dinobatkan, Mangkunegara IV mulai memperluas tanaman kopi ke wilayah Honggobayan, Keduwang dan Karangpandan. Hal ini dikarenakan beberapa tempat yang cocok untuk penanaman kopi ini masih berada di tangan para penyewa pengusaha Eropa, maka untuk memperluas pembudidayaan kopi Mangkunegara IV melakukan alih fungsi hutan di wilayah Wonogiri.

Pada awal tahun 1850 baru ada 4 wilayah penting bagi penanaman kopi di Mangkunegaran, tetapi sejak pembebasan tanah-tanah apanage berkembang menjadi 24 wilayah. Penanaman kopi di 24 wilayah Mangkunegaran ini ditangani secara serius, dengan mendatangkan administratur kopi dari Eropa, Rudolf Kampff untuk mengorganisir pananaman kopi. Dari 24 wilayah itu, masing-masing dikepalai oleh seorang administratur yang bergelar panewu kopi dan mantri kopi. Di setiap daerah didirikan sebuah gudang untuk penampungan kopi dan sebuah pesanggrahan sebagai tempat tinggal para administratur itu. Ke-24 administratur kopi itu berada di bawah kendali dua orang penilik atau inspektur Eropa, yaitu L.J. Jeanty dan J.B. Vogel yang masing-masing berkedudukan di Tawangmangu dan Nguntoronadi. Masing-masing penilik membawahi 12 wilayah. J.B. Vogel membawahi wilayah-wilayah: Karangpandan, Tawangmangu, Jumapolo, Jumapuro, Jatipuro, Ngadirojo, Sidoarjo, Girimarto, Jatisrono, Slogohimo, Bulukerto dan Purwantoro. Sedangkan L.J. Jeanty membawahi wilayah-wilayah: Nguntoronadi, Wuryantoro, Eromoko, Pracimantoro, Giritontro, Baturetno, Batuwarno, Selogiri, Singosari dan Ngawen. Kedua inspekstur itu bertanggungjawab terhadap seorang superindentent dari Kawedanan Kartoprojo. Pejabat superindentent pada saat itu adalah Raden Mas Wirohasmoro.
Sejak dekade pertama perluasan penanaman kopi telah memperoleh peningkatan hasil yang cukup baik. Dari 1.208 kwintal pada tahun 1842 telah meningkat menjadi 11.145 kwintal pada tahun 1857. Pada tahun 1857 Mangkunegara IV bersikeras untuk mencoba mengakhiri persewaan tanah apanage di wilayahnya agar ia dapat mengambilalih pembudidayaan kopi di Mangkunegaran dari para pengusaha Eropa.

Upaya Mangkunegara IV dengan dukungan rakyatnya mampu menanam tanaman kopi sebanyak 6.056.203 pohon di tahun 1863, dari jumlah itu 5.037.356 pohon diantaranya telah berbuah. Untuk pemasaran, kopi produksi Mangkunegaran tidak dapat dijual langsung ke pasaran bebas karena berlaku politik monopoli oleh pemerintah Hindia Belanda. Untuk menambah pendapatan, Mangkunegara IV meminta petinggi Belanda menaikkan harga kopinya diatas harga pasaran. Residen Jeekel bersedia menaikkan harga kopi Mangkunegaran sebesar f 26,66 per pikul.

Selama periode antara 1871-1881, Mangkunegara IV berhasil menambah kas kerajaan sebesar f 13.873.149,97 atau rata-rata f 1.261.195,45 per tahun dari hasil produksi kopi. Sebagai komoditi ekspor, harga komoditi kopi sangat dipengaruhi oleh harga pasar internasional.

Mangkunegaran telah memperkuat basis ekonomi modern saat itu dengan mengembangkan perkebunan kopi dan gula. Pilihan bisnis kopi sangat memperhitungkan bahwa komoditias tersebut laku keras di pasaran internasional. Komoditas kopi juga mampu meningkatkan perekonomian Mangkunegaran karena perannya dalam menopang kehidupan praja dengan dikelola secara serius dan diatur dengan manajemen yang profesional

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*