Puro Mangkunagaran, atau Istana Mangkunegaran adalah istana resmi Kadipaten Praja Mangkunegaran dan tempat kediaman para penguasanya>

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VI (1896-1916)

KGPAA-Mangkunegara-VI-closeup
KGPAA Mangkunegara VI
KGPAA Mangkunegara VI

Setelah Mangkunegara V wafat, beliau digantikan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VI. Mangkunegara VI adalah putra dari Mangkunegara IV dan ibundanya adalah RAy Dunuk. Beliau dilahirkan pada tanggal 13 Maret 1857 dengan nama RM Suyitno.

Sewaktu Mangkunegara VI berkuasa, kondisi keuangan Mangkunegaran sedang jatuh akibat kesalahan dalam pengelolaan bisnisnya. Ditambah lagi, gula sebagai salah satu komoditi utama Mangkunegaran harganya di pasaran dunia juga jatuh.

Sebagai raja yang kerajaannya yang terancam bangkrut, Mangkunegara VI berhasil membawa perubahan bagi keberlangsungan Mangkunegaran. Mangkunegara VI berhasil membawa Mangkunegaran dari situasi terpuruk karena terbelenggu hutang kepada kerajaan Belanda menjadi tidak memiliki hutang bahkan surplus. Terhitung tanggal 1 Juni 1899 semua kepengurusan perusahaan- perusahaan Mangkunegaran dibawah kendali langsung Mangkunegara VI. Beliau juga memisahkan antara keuangan perusahaan dan keuangan kerajaan. Keberhasilan memulihkan perekonomian dan keuangan salah satunya menjalankan prinsip- prinsip manajemen Jawa yang diajarkan Mangkunegara IV yaitu keteraturan dalam hidup, keteraturan berusaha dan keteraturan dalam bekerja.

Mangkunegara VI menggunakan sistem keuangan dalam mengelola dinasti Mangkunegaran. Beliau mempersiapkan masa depan Mangkunegaran dengan model dana cadangan atau tabungan. Itu dibuktikan hingga turun tahta, Mangkunegara VI meninggalkan tabungan sebesar 10 juta gulden untuk Mangkunegaran.

Mangkunegara VI membangun kembali kekuatan Legiun Mangkunegaran dengan pendanaan yang memadai sehingga kekuatan korps menjadi kuat kembali. Beliau menyediakan Nayu sebagai tempat latihan bagi Legiun Mangkunegaran.

Minat kesenian Mangkunegara VI nampak pada kreasi kesenian wayang kulit yang awalnya pertunjukan semalam suntuk menjadi empat jam tanpa penyimpangan isi cerita. Kesenian wayang wong juga tidak lepas dari perhatian beliau. Mangkunegara VI mengizinkan wayang wong dibawa keluar tembok istana untuk dipasarkan supaya pertunjukan tradisi ini dapat dinikmati oleh masyarakat.

Pada tanggal 11 Januari 1916 Mangkunegara VI mengundurkan diri. Bersama keluarganya beliau menetap di Surabaya. Di kota tersebut, Mangkunegara VI aktif dalam pergerakan Budi Utomo. Beliau wafat pada tanggal 25 Juni 1928 dan disemayamkan di Astana Utoro Nayu, Banjarsari Surakarta

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*