Puro Mangkunagaran, atau Istana Mangkunegaran adalah istana resmi Kadipaten Praja Mangkunegaran dan tempat kediaman para penguasanya>

Kirab Pusaka Dalem 1 Suro Dal 1951 Puro Mangkunegaran

GPH Bhre Cakrahutama Wira Sudjiwo cucuk lampah dalam Kirab Pusaka Dalem 1 Suro

Sura atau Suro ialah nama bulan pertama dalam penanggalan Jawa. Puro Mangkunegaran sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa penerus tradisi Mataram menyambut datangnya 1 Suro dengan melakukan ritual penyucian pusaka, kirab pusaka dan laku tirakat.

Sesuai tradisi, Puro Mangkunegaran menggelar Kirab Pusaka Dalem pada hari Rabu malam 1 Suro Dal 1951 atau bertepatan tanggal 20 September 2017 . Sebelum acara kirab, tampak di depan Pendhopo Ageng diletakkan dua buah ember dari kaleng berisi air bunga. Di belakangnya dua buah meja digabung menjadi satu dan dijajar memanjang, diatasnya juga terdapat bunga. Air dan bunga ini digunakan membasuh pusaka.

Ribuan masyarakat memadati halaman Puro Mangkunegaran semenjak sore. Masyarakat yang datang tak hanya berasal dari Kota Solo sebagian juga datang dari Sragen, Karanganyar, Boyolali dan Klaten. Mereka antusias ingin menyaksikan Kirab Pusaka Dalem.

Sri Paduka Mangkunagoro IX melepas rombongan Kirab Pusaka 1 Suro
Sri Paduka Mangkunagoro IX melepas rombongan Kirab Pusaka 1 Suro

Tahun ini pusaka yang dikirab berupa tombak dan pusaka yang disimpan di dalam joli (kotak rumah kecil). Pemilihan pusaka sesuai titah (perintah) dari Sri Paduka Mangkunagoro IX.

Berawal dari Bangsal Tosan, para pembawa pusaka berjalan tertib menuju Pendhopo Ageng. Rombongan kirab berangkat sekitar pukul 19.30 WIB setelah dilepas oleh Sri Paduka Mangkunagoro IX. Barisan paling depan adalah panji atau bendera kebesaran Puro Mangkunegaran yaitu Bendera Pare Anom dan Bendera Bangun Tulak. Bendera Pare Anom berwarna kuning dan hijau tua. Sementara Bendera Bangun Tulak berwarna biru laut dengan logo Puro Mangkunegaran.

Di belakangnya, bertindak sebagai cucuk lampah atau penunjuk jalan adalah GPH Bhre Cakrahutama Wira Sudjiwo, putra Sri Paduka Mangkunagoro IX. Selanjutnya iring-iringan keluarga, abdi dalem dan tamu undangan VIP diantaranya Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Ketua MKRI Arief Hidyat, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Walikota Surakarta FX Hadi Rudyatmo dan anggota DPR RI Aria Bima. Disusul barisan pembawa pusaka.

Menteri Susi Pudjiastuti, Mendagri Tjahyo Kumolo, Ketua MKRI Arief Hidayat, dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo usai mengikuti Kirab Pusaka Dalem 1 Suro
Menteri Susi Pudjiastuti, Mendagri Tjahyo Kumolo, Ketua MKRI Arief Hidayat, dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo usai mengikuti Kirab Pusaka Dalem 1 Suro

Peserta kirab berjalan kaki mengelilingi tembok puro dengan rute Puro Mangkunegaran – Jl. Ronggowarsito – Jl. Kartini – Jl. RM Said – Jl. Ronggowarsito kembali lagi  ke dalam Puro Mangkunegaran. Saat kirab pusaka, seluruh peserta tidak menggunakan alas kaki dan dilarang berbicara. Kirab berjalan hening dan hikmat. Guna menjaga kekhusukan ritual kirab pusaka dan tapa bisu mubeng beteng, masyarakat yang dilewati mematikan lampu penerangan jalan selama kirab berlangsung.

Menurut Sekretariat Panitia Pelaksana Kirab Pusaka 1 Suro Puro Mangkunegaran, Mas Ngabehi Wadono Joko Pramudyo, ritual tapa bisu dilakukan sebagai bentuk perenungan. Mereka juga melakukan kontemplasi dan evaluasi diri terhadap hal-hal yang sudah dilakukan selama setahun terakhir.

Sejak beberapa tahun terakhir, Puro Mangkunegaran mengajak masyarakat untuk turut serta dalam kirab pusaka dan semedi tengah malam 1 Suro. Ritual semedi yang dulu hanya dilakukan kerabat Puro Mangkunegaran tahun ini terbuka untuk umum. Hanya saja, masyarakat yang ingin mengikuti prosesi ini harus mengenakan busana Jawa.

Ada pandangan menarik dalam kirab pusaka dengan keikutsertaan Menteri Susi Pudjiastuti mengikuti kirab mengelilingi tembok istana. Menteri Susi mengatakan senang bisa mengikuti kirab Malam Satu Suro di Puro Mangkunegaran meski dirinya mengaku tidak terbiasa memakai jarik dan berjalan pelan.

“Ini pertama kali. Saya tidak biasa jalan pelan. Menurutnya, tradisi ini patut dilestarikan supaya masyarakat tahu. Dengan mempertahankan kearifan lokal, bangsa Indonesia tidak akan mudah tergerus oleh arus globalisasi. Saya pikir ini kebersamaan yang luar biasa dan memelihara budaya. Dan, kearifan lokal itu sangat penting untuk sebuah bangsa,” kata Susi seusai ikut kirab.

Sedangkan Mendagri Tjahjo Kumolo mengatakan, kegiatan kirab pusaka bagian dari budaya yang harus dilestarikan, dan hal ini bisa mengundang wisatawan dari mancanegara.

“Pemerintah sangat mendukung kegiatan ini, karena salah satu tujuan untuk mendapatkan devisa dari pariwisata seluruhnya kompleks seperti perhotelan, kuliner, dan kerajinan. Solo boleh modern, tetapi jangan meninggalkan adat-istiadat tradisi budaya. Hal ini harus diuri-uri,” katanya.

Seusai proses kirab, Sri Paduka Mangkunagoro IX melemparkan udik- udik (membagikan rizki) berupa uang koin kepada masyarakat. Tidak ketinggalan Menteri Susi, Ketua MKRI Arief Hidayat, Mendagri Tjahyo Kumolo dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo  juga turut melempar udik- udik kepada warga yang hadir di Puro Mangkunegaran. Di Pendopo Ageng dibagikan 15 ribu nasi bungkus kepada masyarakat yang menghadiri acara kirab.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*