Puro Mangkunagaran, atau Istana Mangkunegaran adalah istana resmi Kadipaten Praja Mangkunegaran dan tempat kediaman para penguasanya>

Kirab Pusaka Dalem Puro Mangkunegaran 1 Suro Be 1952

KGPAA Mangkoenagoro IX melepas Kirab Pusaka Dalem

Peringatan malam Tahun Baru Islam 1 Muharram 1440 menjadi momen penting dan istimewa. Di samping itu, peristiwa ini juga bertepatan dengan momentum 1 Suro pada penanggalan Jawa. Bulan Suro bagi masyarakat Jawa dianggap sakral dan keramat. Bagi masyarakat Jawa telah menjadi tradisi turun-temurun setiap menyambut malam 1 Suro dengan melakukan laku tirakat.

Puro Mangkunegaran sebagai penerus dinasti Mataram menyambut Malam 1 Suro dengan Kirab Pusaka Dalem pada Senin (10/9/2018) jam 19.00 WIB hingga selesai. Usai pusaka dikirab keliling istana, KGPAA Mangkoenagoro IX menebar udik-udik berupa uang. Itu merupakan simbol kekayaan istana tidak hanya dinikmati kerabat dan sentana, namun juga seluruh rakyat. Menjelang tengah malam dilakukan semedi untuk menyambut tahun baru Jawa 1952.

Pusaka yang dikirab berupa tiga buah tombak dan pusaka yang disimpan di dalam joli (kotak rumah kecil). Rombongan kirab berangkat sekitar pukul 19.30 WIB setelah dilepas oleh Sri Paduka Mangkunagoro IX. Barisan paling depan adalah panji atau bendera kebesaran Puro Mangkunegaran yaitu Bendera Pare Anom dan Bendera Bangun Tulak.

Kirab Pusaka Dalem Puro Mangkunegaran Malam 1 Suro

Bertindak sebagai cucu’ lampah atau penunjuk jalan adalah GPH Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo, putra dalem KGPAA Mangkoenagoro IX. Selanjutnya iring-iringan keluarga, abdi dalem dan tamu undangan, diantaranya Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Condro Kirono, Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Wuryanto, Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Wakil Walikota Achmad Purnomo. Kemudian disusul barisan pembawa pusaka.

GPH Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo putra dalem KGPAA Mangkoenagoro IX sebagai cucu’ lampah

Selama prosesi kirab berlangsung, tidak satu orangpun peserta diperbolehkan untuk berbicara meskipun hanya berbisik. Makna laku tapa bisu sebagai bentuk instrospeksi diri atau perenungan akan perilaku selama ini yang kurang baik agar tidak terulang kembali. Seluruh peserta laku tapa bisu mengenakan busana Jawa lengkap dengan beskap hitam untuk pria. Sedangkan peserta kirab perempuan mengenakan kebaya gelap atau hitam dan sanggul Jawa dengan tusuk penyu. Semua peserta juga tidak boleh mengenakan alas kaki. Tepat pukul 19.30 WIB, laku tapa bisu dimulai.

Prosesi kirab diawali dari Pendaphi Ageng Puro Mangkunegaran, keluar melalui gerbang utama Puro Mangkunegaran dan berkeliling tembok Puro Mangkunegaran searah jarum jam. Melewati Jl. Ronggowarsito, Jl. Kartini, Jl. RM. Said, Jl. Teuku Umar, kembali ke Jl. Ronggowarsito kemudian masuk kembali ke Puro Mangkunegaran. Seiring dengan prosesi kirab, di Masjid Al Wusto Mangkunegaran dilakukan tadarus Al Quran. Kegiatan ini sebagai bentuk bersinerginya adat- istiadat dengan agama.

Puro Mangkunegaran menempatkan ritual Kirab Pusaka Dalem sebagai obyek wisata religi, nilai-nilai sakral dan magis tetap dipertahankan. Masyarakat luas boleh mengikuti proses kirab dan semedi di dalam istana dengan tetap mengikuti aturan yang ditentukan.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*