Puro Mangkunagaran, atau Istana Mangkunegaran adalah istana resmi Kadipaten Praja Mangkunegaran dan tempat kediaman para penguasanya>

Manisnya Gula Tasikmadu

Pabrik Gula Tasikmadu tahun 1920
Pabrik Gula Tasikmadu tahun 1920

Setelah berhasil membangun pabrik gula Colomadu dan keuntungan yang diperoleh dapat meningkatkan pendapatan praja, maka Mangkunegara IV berkeinginan membangun pabrik gula kedua, yakni Pabrik Gula Tasikmadu.  Pabrik gula ini terletak di Desa Sandakara, Distrik Karang Anyar. Wilayah ini merupakan dataran rendah yang terletak di sebelah barat lereng Gunung Lawu dan sebelah timur Praja Mangkunegaran.

Peletakan batu pertama pembangunan pabrik gula dilakukan tanggal 11 Juni 1871. Pembangunan diselesaikan tahun 1874. Nama pabrik gula kedua yakni Tasikmadu, mengambil konsep kebesaran alam, yakni tasik yang berarti laut dan madu yang berarti gula. Ada harapan dari Mangkunegara IV agar hasil dari pabrik gula ini melimpah ruah bagaikan lautan madu. Seperti pabrik gula Colomadu, pengelolaan pabrik gula Tasikmadu berada di bawah komando Mangkunegara IV.

Pada awalnya, kegiatan produksi pabrik gula Tasikmadu berjalan ketika hasil perkebunan kopi Mangkunegaran kurang menghasilkan keuntungan. Seiring peningkatan permintaan gula yang harus diproduksi maka menejemen pabrik melakukan kerja sama dengan Nederlandsche Handle Maatschappij (Serikat Dagang Belanda) di Semarang untuk memperoleh modal kerja. Tanaman tebu seabagai bahan utama gula diperoleh dari Distrik Karang Anyar, Matesih dan wilayah lain.

Salah satu bisnis Pabrik Gula Tasikmadu Karanganyar
Pabrik Gula Tasikmadu Karanganyar

Dalam proses penanaman tebu diperlukan faktor pendukung, salah satunya, bibit. Bibit tebu untuk Perusahaan Gula Tasikmadu terutama dipenuhi dari kebun bibit dari wilayah Tasikmadu. Semula kebun bibit hanya berlokasi di Desa Klangon dan Tasikmadu, tetapi sejak tahun 1912 terdapat tambahan kebun bibit di Triagan. Kebun bibit Triagan ini tanahnya diperoleh dengan menyewa kepada Sunan karena meskipun letaknya masih dalam areal Tasikmadu, tanah itu merupakan milik Sunan.

Pabrik gula Tasikmadu telah menggunakan tenaga penggerak utama air, sedangkan tenaga uap hanya sebagai tenaga cadangan. Tenaga uap itu kemudian dihapus dengan munculnya berbagai mesin pabrik gula yang baru antara lain dengan kualifikasi double effect (1873), triple effect (1875), dan instalasi carbonatie (1876). Selain itu pabrik gula Tasikmadu juga di dukung oleh adanya perbaikan transportasi, yakni dengan dibukanya jalur kereta api jurusan Solo-Surabaya sebagai bagian dari jalan kereta api pemerintah Staats-Spoorwegen sejak tanggal 24 Mei 1884. Dengan demikian, produksi gula dari pabrik gula Tasikmadu yang akan di kirim ke Semarang tidak lagi diangkut dengan cikar, tetapi dengan menggunakan lori.

Pada tahun 1912, jumlah produksi gula dari pabrik gula Tasikmadu mencapai 99.052 kuintal, atau meningkat dua kali lipat (50%) dibandingkan dengan rata-rata pabrik gula Tasikmadu selama dasawarsa pertama abad XX. Sementara itu, pabrik gula Colomadu sebesar 52.408 kuintal atau hanya meningkat 13,92% dari rata-rata produksi selama dasawarsa pertama abad XX. Salah satu penyebab produksi gula dari pabrik gula Tasikmadu meningkat dengan pesat adalah selesainya pembangunan gedung dan instalasi pabrik gula itu pada tahun 1912 yang mendorong peningkatan kapasitas giling.

Sejak tahun 1870-1920, produksi Pabrik Gula Tasikmadu menempati ekspor utama gula di Pulau Jawa. Pada tahun 1870 nilai ekspor gula di Jawa f 32.299 dan terus mengalami peningkatan di tahun 1900 mencapai f 73.659 dan tahun 1913 mencapai f 156.609. Saat itu manajemen perusahaan gula Mangkunegaran dikelola Praja Mangkunegaran dipegang oleh Mangkunegara VI. Semua hasil produksi gula dari pabrik gula Tasikmadu yang diekspor dikirim melalui jalur kereta api ke Semarang atau Surabaya yang memiliki pelabuhan besar untuk mengangkut hasil produksi perkebunan di seluruh Jawa, ke luar Jawa dan luar Hindia Belanda.

Ketika itu keuntungan pabrik gula Tasikmadu digunakan untuk beberapa keperluan pertama untuk peningkatan modal usaha, baik untuk pengembangan pabrik gula maupun usaha lain. Keperluan kedua untuk tunjangan atau gaji para bangsawan dan aparat pemerintahan Mangkunegaran serta anggota kerabat raja. Ketiga untuk kepentingan rakyat di wilayah Mangkunegaran dalam bentuk pembangunan sarana irigasi pertanian, pembangunan sekolah- sekolah desa, pembangunan klinik untuk pelayanan buruh pabrik dan petani di sekitar pabrik, dan sebagainya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*