Puro Mangkunagaran, atau Istana Mangkunegaran adalah istana resmi Kadipaten Praja Mangkunegaran dan tempat kediaman para penguasanya>

Nilai-nilai Kearifan Lokal Karya Sastra Mangkunegaran

Serat Wedhatama Karya KGPAA Mangkunegara IV (Koleksi Perpustakaan Rekso Pustoko Puro Mangkunegaran)
Serat Wedhatama Karya KGPAA Mangkunegara IV (Koleksi Perpustakaan Rekso Pustoko Puro Mangkunegaran)

Karya-karya sastra dan seni yang berkembang di Puro Mangkunegaran mempunyai nilai-nilai kearifan lokal dan nilai-nilai luhur yang penting bagi kehidupan. Nilai-nilai itu masih terpelihara di Puro Mangkunegaran, namun jarang dipelajari dan ditanamkan dalam kehidupan masyarakat.

Terkait dengan sikap nasionalisme bangsa Indonesia dinyatakan oleh KGPAA Mangkunegara I (1757-1795). Konsep hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara ini masih relevan untuk diterapkan di zaman sekarang. Konsep melu handarbeni, wajib melu hangrungkepi, mulat sarira hangrasa wani (merasa memiliki, merasa ikut bertanggungjawab, berani mawas diri, dan memperjuangkan kebenaran). Pemimpin harus merasa memiliki dan bertanggungjawab kepada yang dipimpin (rakyat) serta selalu mawas diri dan berani menegakkan kebenaran. Semboyan yang lain adalah tiji tibeh ringkasan dari mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh yang mengandung makna janji yang kuat mengutamakan kebersamaan dalam berjuang melawan musuh sehingga hasil yang dicapai menjadi keberhasilan semua pendukung.

Serat Wedhatama adalah sebuah kaya sastra yang ditulis oleh KGPAA Mangkunegara IV (1809-1881). Wedhatama terdiri dari dua kata, wedha (ajaran), dan tama (keutamaan atau kebaikan), maka Wedhatama berarti ajaran tentang keutamaan atau kebaikan. Wedhatama bisa digolongkan sebagai karya moralistis yang dipengaruhi Islam. Serat Wedhatama dianggap sebagai salah satu puncak estetika sastra Jawa abad -19 dan memiliki karakter mistik yang kuat dalam bentuk tembang.  Serat ini terdiri dari 100 pupuh (bait) tembang macapat, yang terbagi dalam lima lagu, yaitu : Pangkur (14 pupuh), Sinom (18 pupuh), Pocung (15 pupuh), Gambuh (35 pupuh), dan Kinanthi (18 pupuh). Isi dari Serat Wedhatama adalah falsafah kehidupan, seperti hidup tenggang rasa, menganut agama secara bijak, menjadi manusia seutuhnya, dan menjadi orang berwatak ksatria.

Karya Sastra Mangkunegara-IV (Koleksi Perpustakaan Rekso Pustoko Puro Mangkunegaran)
Karya Sastra Mangkunegara-IV (Koleksi Perpustakaan Rekso Pustoko Puro Mangkunegaran)

Karya sastra yang lain berisi tentang pendidikan karakter ditulis oleh KGPAA Mangkunegara IV (1809-1881), diantaranya: Serat Tripama yang berisi tentang gambaran ksatria sejati yaitu: Sumantri, Kumbakarno, dan Adipati Karno. Tokoh-tokoh ini disebutkan sebagai ksatria yang berkorban untuk tujuan mulia. Serat Tripama berisi tentang tiga suri teladan yang ditulis dalam bentuk tembang Dhandanggula sebanyak 7 bait yang mengisahkan Patih Suwanda (Bambang Sumantri), Kumbakarno, dan Suryoputra (Adipati Karno). Bambang Sumantri adalah patih Raja Harjunasasrabahu dari Negara Maespati. Ia terkenal karena keberaniannya, mampu melaksanakan semua tugas dari raja dan gugur sebagai pahlawan melawan Rahwana. Kumbakarno adalah adik Rahwana yang berwujud raksasa tetapi berani melawan Rahwana dan tidak membenarkan tindakan kakaknya yang menculik Dewi Sinta. Namun pada saat Alengka diserang pasukan Rama, ia memenuhi panggilan sifat ksatria untuk membela tanah airnya. Pada akhirnya Kumbakarno gugur membela negara.  Adipati Karno adalah saudara dari Pandawa tetapi berpihak pada Kurawa karena untuk membalas budi baik Kurawa yang telah mengangkat dirinya sebagai patih. Adipati Karno pada akhirnya gugur dalam perang tanding melawan sang adik yaitu Arjuna.

Berkaitan dengan ajaran yang tercantum dalam Serat  Wedhatama dan Serat Tripama dapat ditarik ajaran penting bagi bangsa Indonesia yaitu menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur, dan sikap ksatria. Pada masa KGPAA Mangkunegara VII (1916-1944), pembelajaran seni masih rutin dilakukan untuk pendidikan karakter atau budi pekerti luhur. Melalui belajar dan penghayatan atau penjiwaan terhadap seni dapat membentuk perilaku yang halus.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*