Puro Mangkunagaran, atau Istana Mangkunegaran adalah istana resmi Kadipaten Praja Mangkunegaran dan tempat kediaman para penguasanya>

Nilai-nilai Luhur Tari Gaya Mangkunegaran

Tari Srimpi Bandelori tari gaya Mangkunegaran
Tari Srimpi Bandelori Puro Mangkunegaran

Tari gaya Mangkunegaran sebagai bagian dari tari Jawa adalah seni yang memiliki nilai-nilai luhur. Dalam tari gaya Mangkunegaran terkandung nilai-nilai kearifan lokal yang terkait dengan identitas budaya, jati diri, dan makna filosofis bagi kehidupan manusia.

Tari gaya Mangkunegaran memiliki karakteristik dibentuk dengan memadukan tari gaya Surakarta dan tari gaya Yogyakarta. Hal ini tampak pada pola-pola gerak dan pelaksanaan geraknya. Di Yogyakarta adalah konsep Joged Mataram dipadukan dengan di Surakarta adalah konsep Hasthasawanda. Konsep Joged Mataram terdiri dari empat prinsip, yaitu: (1) Sewiji atau Sawiji adalah konsentrasi total tanpa menimbulkan ketegangan jiwa. (2) Greget adalah dinamik, semangat dalam jiwa seseorang untuk mengekspresikan kedalaman jiwa dalam gerak dengan pengendalian yang sempurna; (3) Sengguh, adalah percaya pada kemampuan sendiri, tanpa mengarah pada kesombongan. Percaya diri ini menumbuhkan sikap pasti dan tidak ragu-ragu; (4) Ora mingkuh, adalah sikap pantang mundur dalam menjalankan kewajiban sebagai penari, berarti tidak takut menghadapi kesulitan dan melakukan kesanggupan dengan penuh tanggung jawab serta keteguhan hati.

Tari Langendriyan Puro Mangkunegaran
Tari Langendriyan Puro Mangkunegaran

Sementara konsep Hasthasawanda terdiri dari delapan prinsip, yaitu: (1) Pacak, menunjuk pada kemampuan fisik penari yang sesuai dengan bentuk dasar; (2) Pancat, menunjuk pada gerak peralihan yang diperhitungkan secara matang, sehingga enak dilakukan; (3) Ulat, menunjuk pada pandangan mata dan ekspresi wajah sesuai dengan kualitas, karakter peran, serta suasana yang diinginkan; (4) Lulut, menunjuk pada gerak yang menyatu dengan penarinya, sehingga yang hadir dalam penyajian tari adalah keutuhan tari yang merupakan perpaduan antara gerak, karawitan tari, dan karakter tari yang diwujudkan; (5) Luwes, menunjuk pada kualitas gerak yang sesuai dengan bentuk dan karakter tari yang dibawakan, rapi, tenang, dan terampil bergerak secara sempurna serta menyentuh bagi penonton; (6) Wiled, menunjuk pada garap variasi gerak yang dikembangkan berdasarkan kemampuan bawaan penarinya dan berdasarkan gerak yang sudah ada; (7) Wirama, menunjuk pada hubungan gerak dengan karawitan tari dan alur tari secara keseluruhan; dan (8) Gendhing, menunjuk pada penguasaan karawitan tari, meliputi: bentuk-bentuk gendhing, pola tabuhan, rasa lagu, irama, tempo, rasa seleh, kalimat lagu, dan penguasaan tembang serta vokal lain.

Tari Gambyong Puro Mangkunegaran
Tari Gambyong Puro Mangkunegaran

Tari gaya Mangkunegaran memiliki beberapa genre tari yang berkembang, di antaranya: Bedhaya, Srimpi, Langendriyan, dan Wireng. Tari genre Wireng berkembang lebih beragam dalam bentuknya. Tari genre Wireng ini sangat menonjol pada masa pemerintahan KGPAA Mangkunegara IV (1853-1881). Terbukti terdapat 41 Tari Wireng diciptakan pada masa itu.   Bentuk tari wireng mempunyai ciri pada tema keprajuritan. Tari ini diciptakan bersadar pada cerita Mahabarata dan Wong Agung Menak. Tari wireng yang bersumber pada cerita Mahabarata atau Wayang Purwo, diantaranya: Gatutkaca Dadungawuk, Mandra Asmara, Mandra Rini, Mandra Kusuma, Srikandhi Larasati, Gatutkaca Antasena, Werkudara Baladewa, dan Wirapratama.

Sementara itu, Tari Wireng yang bersumber dari cerita Menak, sebagai contoh: tari Adaninggar Kelaswara. Tari ini diciptakan dalam bentuk yang beragam, biasanya ditarikan oleh dua, atau empat penari, dengan karakter tari yang berbeda, karakter alus dengan karakter gagah, karakter putri dengan karakter alus, atau karakter putri dengan karakter gagah.

Makna yang dapat diambil dari Tari Wireng tersebut adalah sikap ksatria yang harus dimiliki setiap orang. Seorang ksatria dituntut untuk berani membela kebenaran, jujur, berani menghadapi tantangan, tangguh, tabah, dan dapat meredam nafsu dan amarah. Pada setiap tari selalu mempunyai nilai dan makna yang berbeda tetapi penekanan pada nilai kebenaran, kejujuran, dan kesetiaan. Nilai-nilai inilah yang penting untuk diimplementasikan dalam membentuk karakter yang kuat dan budi pekerti yang luhur.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*