Puro Mangkunagaran, atau Istana Mangkunegaran adalah istana resmi Kadipaten Praja Mangkunegaran dan tempat kediaman para penguasanya>

Ornamen Kumudawati Pendhapa Ageng Puro Mangkunegaran

Ornamen kumudawati

Puro Mangkunegaran merupakan sebuah kompleks istana yang dibangun secara bertahap hingga megah seperti sekarang. Pembangunan Puro Mangkunegaran mencerminkan pola pemikiran dan kepemimpinan raja yang bertahta.

Diawali masa pemerintahan Mangkunegara II (1796-1835) dengan membangun Pendhapa Ageng pada tanggal 25 Oktober 1815. Dilanjutkan oleh Mangkunegara IV (1853-1881) dengan pembangunan ruang kantor, gedung kavaleri- artileri, pemasangan puluhan lampu robyong di Pendhapa Ageng serta pembangunan bangsal tosan dan ornamen lain di bagian dalam Pendhapa Ageng yang mencerminkan pengaruh Barat.

Pada masa Mangkunegara VII (1916-1944), Pendhapa Ageng dibuat makin indah melalui penambahan emper tratag payon sengdan cagak gilinganyang bernuansa Eropa. Lantai pendhapa pun diganti dengan batu pualam yang didatangkan dari Italia. Tidak kalah penting adalah penambahan ornamen kumudawati pada singup (langit-langit) bagian tengah Pendhapa Ageng. Hadirnya nuansa Eropa di Puro Mangkunegaran karena Mangkunegara IV dan Mangkunegara VII memiliki pola pikir modern serta membawa modernisasi di Puro Mangkunegaran, di antaranya dari segi arsitektur. Dalam pandangan kedua pengageng puro tersebut terdapat pemikiran bahwa budaya Jawa yang terwujud dalam bangunan istana dapat disinergikan dengan budaya Barat. Dapat dikatakan bahwa budaya Jawa mampu mengikuti perkembangan zaman sepanjang kehadiran budaya lain dapat berdampingan dengan ajaran budaya Jawa.

Ornamen kumudawati merupakan salah satu daya tarik Pendhapa Ageng Puro Mangkunegaran. Selain berukuran besar, ornamen kumudawati terletak pada singup (langit-langit) pendhapa, sehingga keindahannya bisa langsung dilihat ketika memasuki pendhapa. Ornamen kumudawati hanya dijumpai di Pendhapa Ageng PuroMangkunegaran dan tidak ditemukan di pendhapa-pendhapa lain. Terlebih Pendhapa AgengPuroMangkunegaran merupakan ruang terbuka bagi publik, sehingga setiap pengunjung dapat melihat ornamen ini dengan leluasa.

Ornamen kumudawati di langit-langit Pendhapa Ageng Puro Mangkunegaran

Istilah kumudawati berasal dari dua kata, kumuda yang berarti teratai putih, dan wati yang berarti dunia, jagad; rahsa, nur, cahaya, atau sinar. Arti kumudawati juga tergambar dalam wujud ornamennya. Kumuda sebagai teratai dipercaya menjadi lambang kesucian, dan keberkaitan dengan awal keberadaan para dewa. Jumlah kelopak kumuda yang berjumlah delapan juga dikaitkan dengan dewa-dewa penguasa penjuru mata angin. Warna putih teratai juga muncul sebagai latar belakang warna ornamen kumudawati. Bahwa kumudawati memiliki makna sebagai dunia para dewa, atau cara pendekatan diri melalui rahsa kepada Tuhan, ataupun cahaya Ketuhanan yang menyingkap dalam sebuah ornamen. Di dalam ornamen kumudawati terdapat ajaran bahwa dalam menjalani hidup manusia Jawa harus mendekatkan diri kepada Tuhan agar manusia selalu mendapatkan cahaya Tuhan dan selalu dalam keadaan suci.

Pembuatan ornamen kumudawati terinspirasi dari gambar kumudawatiwa yang beber Pacitan yang berasal dari klika wiwitan(kertas gedhong atau kertas Ponorogo) pada tahun 1910. Namun, ide membuat motif tersebut baru terwujud pada tahun 1937 atas inisiatif Mangkunegara VII.

Melalui ornamen kumudawati, Mangkunegara VII menegaskan bahwa meskipun beliau mengenyam pendidikan barat dan hidup dalam kebudayaan Barat, namun selalu menjunjung tinggi budaya Jawa. Dengan demikian, ornamen kumudawati berhubungan erat dengan pola pemikiran Mangkunegara VII yang berupaya melakukan budaya tanding atas budaya Barat dan ingin mendudukkan kembali budaya Jawa sebagai budaya yang adiluhung yang bersifat dinamis. Manusia jawa boleh tampil modern dengan gaya hidup Barat, namun jiwa dan hati tetaplah manusia Jawa yang menjunjung tinggi budaya Jawa.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*