Puro Mangkunagaran, atau Istana Mangkunegaran adalah istana resmi Kadipaten Praja Mangkunegaran dan tempat kediaman para penguasanya>

Pelayanan Kesehatan di Praja Mangkunegaran

Poliklinik Mangkunegaran

Rumah sakit sangat lekat dengan kehidupan manusia, dimanapun lokasinya rumah sakit nyaris penuh tak pernah sepi. Di masa pemerintah kolonial Belanda, di wilayah Surakarta telah terdapat rumah sakit yang memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat, yakni Panti Rogo, Ziekenzorg dan Rumah Sakit Zending

Praktek pengobatan modern juga dijalankan di wilayah Paraja Mangkunegaran. Upaya meningkatkan kesehatan masyarakat ditandai dengan berdirinya berbagai poliklinik. Pendirian poliklinik bertujuan mendekatkan layanan kesehatan  bagi  penduduk yang lokasi rumahnya jauh dari kota.  Adapun wilayah Kabupaten Kota Mangkunegaran telah berdiri dua poliklinik yang dibangun pemerintah, di Karang Anyar dan Karang Pandan.

Selain dibangun langsung oleh Pemerintah Praja Mangkunegaran, poliklinik juga dibangun oleh pabrik gula milik Mangkunegaran yakni poliklinik Colo Madu dan poliklinik Tasik Madu. Poliklinik Colo Madu dibangun tahun 1916, kemudian ditingkatkan menjadi rumah sakit di tahun 1919. Dengan adanya rumah sakit itu, penduduk tak hanya mendapatkan layanan rawat jalan, melainkan juga rawat inap (mondok).

Tercatat di tahun 1919, rumah sakit milik Mangkunegaran berhasil menolong pasien sebanyak 8.217 orang, 1.197 pasien dirawat  secara intensif siang malam.  Menginjak tahun 1929, tercatat 28.685 pasien yang konsultasi di poliklinik. Tahun 1931 terjadi peningkatan pasien sebanyak 36.631. Kondisi ini terjadi karena adanya wabah pes yang menyerang penduduk di wilayah Mangkunegaran. Paska wabah, pasien yang berobat di polklinik mengalami penurunan.

Untuk menanggung biaya operasional rumah sakit dan poliklinik, pabrik gula menyediakan Dana Penduduk (semacam tanggung jawab sosial perusahaan). Sebagian dari dana itu juga digunakan untuk membantu pasien tidak mampu. Pada tahun 1925, dana penduduk diperuntukkan bagi pemiliharaan kesehatan masyarakat. 

Kehadiran klinik dan poliklinik di wilayah Karang Anyar ini mendapat sambutan positif  dari  masyarakat . Mereka yang awalnya hanya bertumpu pada pengobatan tradisional kemudian memanfaatkan sarana kesehatan modern.  Pengawasan kedua sarana kesehatan di  Tasik  Madu dikoordinasikan oleh dokter pabrik gula. Namun sejak tahun 1934 pengawasan langsung di bawah dokter Praja Mangkunegaran.

Keberhasilan layanan poliklinik di wilayah Karang Anyar menginspriras Pemerintah Praja Mangkunegaran untuk mengembangkan di wilayah lain. Di tahun 1938,  dikembangkan  poliklinik  di wilayah  Kawedanan  Wonogiri sebagai pusat populasi terbanyak kedua setelah Kota Mangkunegaran.

Di tahun 1921, didirikan Rumah Sakit Ziekenzorg yang terletak di sebelah Barat  Praja  Mangkunegaran.  Rumah sakit ini dikenal sebagai rumah sakit modern di wilayah Surakarta  yang  pendanaannya disubsidi pemerintah Swapraja sebesar f.5.000 setiap tahun. Pemerintah Praja Mangkunegaran juga melakukan kerjasama dengan  Rumah  Sakit  Zending  di Jebres.  Kerjasama ini dimungkinkan karena sebagian dari pengguna jasa pelayanan kesehatan merupakan abdi dalem dan kawula dalem Praja Mangkunegaran.

Pemeliharaan kesehatan jiwa dan kesehatan sosial juga diupayakan Mangkunegaran pada masa KGPAA Mangkunegara VII, melalui pemberian pertolongan.  Bentuk nya berupa kerja sama   pemeliharaan kesehatan kepada penderita penyakit jiwa dengan pihak rumah sakit jiwa di Mangunjayan, Lawang, Magelang, dan Bogor. Antara tahun 1929 – 1937, pemerintah Praja mengeluarkan dana f59.655.39 untuk biaya rehabilitasi pengobatan dan penyembuhan penderita penyakit jiwa.

Pendirikan berbagai layanan kesehatan seperti poliklinik dan rumah sakit di berbagai daerah merupakan upaya Pemerintah Praja  Mangkunegaran  untuk meningkatkan kesehatan masyarakat melalui pengobatan modern. 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*