Puro Mangkunagaran, atau Istana Mangkunegaran adalah istana resmi Kadipaten Praja Mangkunegaran dan tempat kediaman para penguasanya>

Prosesi Kirab Pusaka Dalem 1 Suro EHE 1956 Puro Mangkunegaran

Kirab Pusaka Dalem 1 Suro EHE 1956 Puro Mangkunegaran

Puro Mangkunegaran menggelar Kirab Pusaka Dalem pada hari Jumat tanggal 29 Juli 2022. Kirab menyambut datangnya Tahun Baru Jawa 1 Suro Ehe 1956. Ini kali pertama kirab pusaka dilakukan secara terbuka paska pandemi.

Prosesi dimulai sekitar pukul 19.00 WIB, KGPAA Mangkoenagoro X miyos dalem atau keluar dari kediamannya menuju Paringgitan. Kanjeng Gusti dijemput oleh KPH Drs. Cuk Susilo, MPA.  dan KRMH Hariadhi Anggoro Kadarisman. Selanjutnya mewakili panitia KRMT Lilik Priarso Tirtodiningrat menyampaikan kepada Ngarsodalem bahwa kirab pusaka akan dimulai. Sekitar pukul 19.15, 4 pusaka yang terdiri dari 3 tombak dan 1 joli dikeluarkan dari kamar pusaka. KRMT Lilik Priarso Tirtodiningrat dan KRMT Hudoko Artisto, S.Sos., MBA. menjemput pusaka-pusaka tersebut.

Sebelum kirab dimulai, dilakukan prosesi permohonan izin dari KRMH H. Roy Rahajasa Yamin, SH. kepada Pengageng Puro Mangkunegaran, KGPAA Mangkoenagoro X. Iring-iringan kirab dimulai pukul 19.40 WIB.

Ada 4 Pusaka Dalem yang dikirab keliling luar benteng puro. Pusaka itu berupa tiga tombak dan satu joli yang diusung para abdi dalem. Kirab Pusaka Dalem dipimpin oleh KRMH H. Roy Rahajasa Yamin, SH. yang bertindak sebagai cucuk lampah. Acara diikuti oleh keluarga, kerabat, abdi dalem, tamu undangan, serta masyarakat.

Rute kirab dimulai dari gerbang utama Puro Mangkunegaran di Jalan Ronggowarsito, berbelok ke kanan ke Jalan Kartini, Jalan RM Said, Jalan Teuku Umar, dan kembali lagi ke puro. Selama prosesi kirab, para peserta dilarang memakai alas kaki dan berbicara. Ini bermakna agar manusia selalu berhubungan dengan bumi dan manembah (berbakti atau mengabdi) kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dalam keadaan suci dan sebagai bentuk penguasaan diri. Rombongan kirab disambut ribuan warga yang berdiri khidmat di pinggir jalan yang dilalui.

Untuk tamu undangan dan masyarakat yang mengikuti Kirab Pusaka Dalem dan prosesi semedi diwajibkan mengenakan ageman jawi jangkep dasar cemeng (hitam). Dhuwungan bagi laki-laki dan ageman jawi nyampingan ukel tradisi Jawa cunduk penyu bagi perempuan. Selain pangeran dan bupati sepuh tidak diperkenankan mengenakan batik parang, motif lereng, dan pakaian berbahan beludru.

Setelah pelaksanaan Kirab Pusaka Dalem, kegiatan dilanjutkan dengan prosesi semedi di Pendapa Ageng dan Paringgitan hingga Sabtu, 30 Juli 2022 atau 1 Suro dini hari. Semedi dilaksanakan dengan tujuan agar manusia mengingat jati dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan dan sebagai bentuk kewaspadaan dari segala bentuk godaan dan perbuatan buruk.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*