Puro Mangkunagaran, atau Istana Mangkunegaran adalah istana resmi Kadipaten Praja Mangkunegaran dan tempat kediaman para penguasanya>

Sejarah Praja Mangkunegaran

legiun-mangkunegaran-02
Legiun Mangkunegaran

Hasil perjuangan Raden Mas Said yang dibantu oleh para Punggawa Baku selama 16 tahun, maka diakuilah oleh Pemerintah Hindia Belanda adanya suatu pemerintahan otonom yang dikepalai oleh seorang Pangeran Adipati dengan gelar Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Mangkunegara. Sejak saat itu lahirlah Praja Mangkunegaran yang di samping berfungsi sebagai daerah yang mempunyai pemerintahan otonom sekaligus dikemudian hari juga menjadi salah satu sumber/pusat budaya Jawa dan wadah kekerabatan Mangkunegaran.

Kepala pemerintahan otonom Praja Mangkunegaran ditunjuk oleh yang berkuasa pada waktu itu (Pemerintah Hindia Belanda kemudian Pemerintan Pendudukan Jepang). Hal itu berlangsung sampai dengan KGPAA Mangkunegara VIII.

Kedudukan KGPAA Mangkunegara I hingga VIII, adalah sebagai kepala Pemerintahan Otonom Praja Mangkunegaran, di samping sekaligus sebagai Kepala Kerabat Mangkunegaran. Dalam kedudukan beliau sebagai kepala Pemerintahan Otonom Praja Mangkunegaran, KGPAA Mangkunegara (I hingga VIII), mempunyai kewenangan – kewenangan tertentu sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku pada waktu itu.

Dalam perkembangannya, kedudukan KGPAA Mangkunegara VIII sebagai Kepala Pemerintahan Otonom Praja Mangkunegaran, dengan dikeluarkannya Penetapan Pemerintah No. 16/SD tahun 1946 jo Undang-Undang No. 10 tahun 1950 Tentang Pembentukan Propinsi Jawa Tengah, menjadi hapus. Dengan demikian ikut terhapus pula kewenangan yang melekat pada kedudukan sebagai Kepala Pemerintahan Otonom Praja Mangkunegara.

Di awal dikemukakan bahwa di samping kedudukan beliau sebagai kepala pemerintahan, KGPAA Mangkunegara juga berkedudukan sebagai kepala Kerabat Mangkunegaran. Kedudukan beliau sebagai kepala kerabat, yang berarti sebagai lambang persatuan dan kesatuan kekerabatan Mangkunegaran, tidak terhapus oleh adanya berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku, karena bersifat tradisi.

Dengan berlakunya Penetapan Pemerintah No. 16/SD Tahun 1946 jo Undang-Undang No. 10 Tahun 1950 tentang Pembentukan Propinsi Jawa Tengah, Praja Mangkunegaran sebagai Daerah Otonom telah hapus. Sebagai konsekuensi logis dari hapusnya Daerah Otonom Praja Mangkunegaran, maka kedudukan KGPAA Mangkunegara VIII pada waktu itu sebagai Kepala Pemerintahan Daerah otonom Praja Mangkunegaran juga ikut terhapus. Sepeninggal KGPAA Mangkunegara VIII pada 2 September 1987, timbul masalah siapa yang seharusnya menunjuk pengganti beliau, karena struktur yang menjadi dasar pengangkatan secara hukum sudah tidak ada lagi. Sementara pada sisi lain kerabat Mangkunegaran masih menginginkan kelanjutan adanya figur pemersatu sebagai tali pengikat kekerabatan Mangkunegaran. Oleh karena itu dengan kesepakatan semua pihak dalam wadah HKMN Suryasumirat dan Bapak Suharto (waktu itu sebagai Presiden Republik Indonesia) diangkatlah GPH Sudjiwo Kusumo pada 5 September 1987 sebagai Kepala Kerabat Mangkunegaran sekaligus sebagai pengageng Puro Mangkunegaran, dengan gelar KGPA Mangkunegara IX. Gelar Adipati sengaja ditanggalkan karena disadari bahwa beliau bukan lagi sebagai kepala Pemerintahan Daerah Otonom Praja Mangkunegaran seperti dahulu.

1 Comment on Sejarah Praja Mangkunegaran

  1. Masyaa Allah, aku baru tahu ternya mangkunegaran udah punya web sendiri, semoga tetep berlanjut & bisa terintegrasi sama web2 keraton lain seperti kraton.id & kratonjogja.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*