Puro Mangkunagaran, atau Istana Mangkunegaran adalah istana resmi Kadipaten Praja Mangkunegaran dan tempat kediaman para penguasanya>

Sekolah Dalang Mangkunegaran

Pertunjukan Wayang Kulit Mangkunegaran 1921-1926, Koleksi Tropenmuseum

Kemunculan wayang kulit gaya Mangkunegaran tak dapat dilepaskan dari eksistensi Mangkunegaran sebagai sebuah kerajaan yang otonom, salah satunya di bidang kesenian. Keberadaan Mangkunegaran melahirkan atmosfir baru dengan adanya bentuk kesenian yang berbeda untuk menunjukkan identitasnya. Berpijak dari kondisi itu kemudian tumbuh dan berkembang dua gaya dalam kesenian yaitu Gaya Surakarta dan Gaya Yogyakarta. Wayang kulit pun mendapatkan pengaruh dari dua kerajaan tersebut, yakni wayang kulit Gaya Surakarta dan Gaya Yogyakarata.

Diawali oleh Mangkunegaran IV (1853-1881), wayang kulit gaya Mangkunegaran mulai dikenal. Beliau memiliki ketertarikan dan perhatian yang besar dalam dunia pewayangan. Ditunjukkan dengan adanya berbagai kreasi dalam pengembangan seni pewayangan, yaitu pembuatan  boneka, kepustakaan wayang dan mengadakan pergelaran.

Wayang kulit gaya Mangkunegaran dibuat pertama kali atas perintah Mangkunegara IV pada tahun 1861. Pembuatan itu didasarkan pada sumber wayang Kyai Kadung dari Kasunanan Surakarta. Pembuatan wayang kulit purwa ciptaan Mangkunegara IV memiliki ciri berukuran lebih kecil dari wayang sumber. Hal ini dimaksudkan agar lebih mudah untuk disebetkan (dimainkan) saat pementasan. Wayang tersebut dikenal dengan nama wayang Kyai Sebet.

Kreasi wayang kulit dilanjutkan oleh Mangkunegara VII (1916-1944). Beliau dikenal sebagai seorang raja yang mencintai seni. Berangkat dari keprihatinan beliau terhadap mutu pertunjukan wayang dan kemampuan para dalang maka sekitar tahun 1923 didisainlah sebuah pendidikan bagi calon dalang. Awalnya diutamakan putra atau keturunan dari seorang dalang. Pertama kali sekolah dalang dilakukan di pedhapa ageng. Dengan cara duduk bersila calon dalang membentuk suatu lingkaran sambil disaksikan oleh Mangkunegara VII.

Mangkunegara VII pun menuliskan Serat Pedalangan Ringgit Purwa dalam 37 jilid yang kemudian diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1930. Serat pedalangan ini merupakan pakem yang digunakan oleh dalang-dalang dari Mangkunegaran maupun lulusan dari sekolah pedalangan Mangkunegaran dalam pagelaran wayang kulit. Pakem tersebut, meliputi: sabetan, suluk, dan iringan.

Mengingat antusiasme masyarakat untuk belajar dalang cukup tinggi, pada tanggal 17 Januari  1950 didirikan Pasinaon Dalang ing Mangkunegaran atau disingkat PDMN, yang kemudian dibuat badan hukumnya pada tanggal 14 Maret 1967.  Kegiatan belajar mengajar didukung oleh berbagai peralatan penunjang antara lain: gamelan slendro, seperangkat wayang kulit, bangku kursi, rak buku, almari kantor, meja kantor, kursi kantor, dan meja guru. Pembiayaan untuk pasinaon dalang Mangkunegaran diperoleh melalui dana dari Mangkunegaran, uang sekolah siswa setiap bulan, disamping memperoleh dana dari pemerintah.

Pendirian Pasinaon Dalang Mangkunegaran bertujuan untuk mencetak dalang-dalang handal dengan pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni. Di sekolah ini calon dalang ditempa oleh para dalang handal dan ahli karawitan. Dalam perkembangannya, Pasinaon Dalang Mangkunegaran terbuka bagi masyarakat yang ingin belajar menjadi dalang. Syarat untuk masuk ke sekolah ini siswa harus dapat membaca dan menulis karena materi pelajaran disampaikan secara lisan dan tertulis.

Materi pengajaran di Pasinaon Dalang Mangkunegaran disampaikan dalam bentuk teori dan praktek. Di awal pertemuan, para siswa diberikan naskah beserta contohnya. Selanjutnya diberikan dasar-dasar seni pewayangan, diantaranya sulukan, sabetan, dan dhodhogan. Para siswa mengikuti pelajaran berdasarkan tahapan belajar. Tahapan itu terdiri dari empat, yakni: tahap awal (purwa), tahap pertengahan (madya), tahap akhir (wasana), dan tahap wredawarana.

Dalam pendidikannya, Pasinaon Dalang Mangkunegaran membentuk karakter yang kuat kepada para lulusannya. Sekolah ini telah melahirkan banyak dalang kondang dan tersohor diantara Ki Narto Sabdo dan Ki Juwardi Hadi Suwarno. Alumsi sekolah dalang Mangkunegaran juga disukai masyarakat karena kemampuannya di dalam memainkan wayang kulit dan pertunjukannya yang menghibur.

Pendirian Pasinaon Dalang Mangkunegaran memiliki peran untuk mengembangkan dan melestarikan kebudayaan Jawa yaitu seni pertunjukan wayang kulit, khususnya wayang kulit gaya Mangkunegaran. Pasinaonan dalang ini juga membuat seni pertunjukan  wayang  kulit di Mangkunegaran menjadi  lebih berkembang  dan berkualitas,  karena memiliki  sistem pengajaran  yang sistematis dan guru-guru yang kompeten di bidang seni pertunjukan wayang kulit. Tak kalah penting bahwa Pasinaonan Dalang Manglunegaran juga memberikan kontribusi pada pembentukan kebudayaan nasional.

1 Comment on Sekolah Dalang Mangkunegaran

  1. Saya tertarik dengan Puromangkunegaran.Pernah bermimpi ditemui Sinuwun Mangku Negara IV.makanya selalu nerasa rindu dengan kota Solo.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*