Puro Mangkunagaran, atau Istana Mangkunegaran adalah istana resmi Kadipaten Praja Mangkunegaran dan tempat kediaman para penguasanya>

Seni Pertunjukan Di Mangkunegaran (Bagian 3)

Wayang Orang Pendhapan/Koleksi Reksopustoko

Pada masa pemerintahan KGPAA Mangkunegara V (1881-1896), seni pertunjukan yang  berkembang  adalah seni tari meliputi tari bedhaya, tari srimpi, tari tayub, dan tari wireng. Kemudian sendratari langendriyan serta berbagai kesenian wayang meliputi wayang purwa, wayang klitik, wayang gedog, wayang golek dan wayang orang. Adapun tempat latihan kesenian berada di Pendhopo Ageng Puro Mangkunegaran. Beberapa terobosan pada masa pemerintahan Mangkunegara V, yaitu seni-seni pertunjukan yang diadakan di Puro Mangkunegaran dapat di saksikan oleh rakyat.

Dalam pandangan Mangkunegara V, seni pertunjukan tidak hanya diperuntukkan bagi kalangan bangsawan, tetapi juga abdi dalem dan rakyat. Pandangan itu mempengaruhi perubahan fungsi seni pertunjukan di Puro Mangkunegaran.  Pada mulanya berfungsi sebagai perlengkapan upacara, kemudian bergeser ke arah hiburan atau tontonan. Pergeseran itu secara tidak langsung mempengaruhi pementasan yang diadakan, sehingga lebih menekankan pada daya tarik penonton.

Perubahan seni pertunjukan khususnya wayang orang, juga nampak pada masa Mangkunegara V. Diilhami ketika beliau berkunjung ke Candi Sukuh, yang terletak di lereng Gunung Lawu. Relief yang menghiasi dinding candi berupa figur dari pahlawan Mahabharata menginspirasi kostum dan hiasan dengan gaya yang sama dengan wayang kulit.

Selepas kunjungan dari candi Sukuh, segera para pemain wayang orang menerima pakaian baru mirip dengan wayang kulit. Setiap tokoh dalam wayang kulit dapat dikenali oleh penonton dari pakaian, penutup kepala, bentuk hiasan atau pola pakaian yang khas. Cara yang sama diterapkan pada pemain wayang orang, walaupun ditonton dari jarak yang cukup jauh tetap bisa dilihat.

Bersamaan pula, aspek koreografi dari wayang orang menjadi berkembang. Pada masa Mangkunegara V pakaian wayang orang diubah menjadi lebih mewah sehingga seni pertunjukan menjadi terlihat lebih indah. Pada Langendriyan, Mangkunegara  V  menonjolkan sisi pemainnya, yaitu seluruhnya perempuan. Pagelaran yang awalnya dilakukan dengan cara berjongkok mulai diubah dengan berdiri seperti wayang orang.

Pada masa Mangkunegara V, Mangkunegaran mengalami krisis ekonomi karena pihak Belanda membuat peraturan baru mengenai sewa tanah. Hal tersebut berpengaruh besar dalam bidang seni pertunjukan, banyak seni pertunjukan yang tidak lagi dipentaskan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*