Puro Mangkunagaran, atau Istana Mangkunegaran adalah istana resmi Kadipaten Praja Mangkunegaran dan tempat kediaman para penguasanya>

Tingalan Wiyosan Jumenengan dalem Ke-30 Sri Paduka Mangkunagoro IX

Puro Mangkunegaran pada Jumat (29/9/2017) siang, menggelar Tingalan Wiyosan Jumenengandalem (upacara peringatan naik tahta) Sri Paduka Mangkunagoro IX. Tiga puluh tahun silam Gusti Mangku, panggilan akrab Sri Paduka Mangkunagoro IX bertepatan 9 Suro ditetapkan menjadi raja menggantikan ayahnya Sri Paduka Mangkunagoro VIII.

Upacara peringatan naik tahta Sri Paduka Mangkunagoro IX dilaksanakan sangat bersahaja. Ritual tingalan Jumenengandalem diawali dengan sungkeman di Dalem Ageng. Sri Paduka Mangkunagoro IX secara bergantian menerima sungkem dari permaisuri dan putra-putri.

Selepas itu, Sri Paduka Mangkunagoro IX dan Gusti Kanjeng Putri berjalan diikuti putra-putri dalem serta saudara-saudara dalem menuju ke Pendhapi Ageng. Diiringi gending-gending karawitan Jawa dari para niyaga yang memainkan gamelan Kyai Kanyut Mesem. Di Pendhapi Ageng telah dipadati ratusan tamu, terdiri dari para pejabat, pengusaha, tokoh masyarakat, seniman-budayawan, utusan Istana Pura Pakualaman Yogyakarta dan lain-lain.

Pementasan Tari Bedhaya Anglir Mendung di Pendhapi Ageng

Tari Bedhaya Anglir Mendung membuka acara Tingalan Wiyosan Jumenengandalem. Suasana sakral menyelimuti Pendhapi Ageng Puro Mangkunegaran. Tarian sakral dan tidak sembarangan penari dapat membawakannya. Bedhaya Anglir Mendung hanya boleh dibawakan pada momen- momen tertentu.

Tujuh penari dengan membawa gendewa panah membawakan Tari Anglir Mendung. Tari berdurasi 45 menit ini menceritakan peperangan antara RM Said atau Mangkunagoro I dibantu dua orang sahabatnya Kudono Warso dan Ronggo Panambang melawan Belanda di Trowulan, Jawa Timur. Para penari telah disiapkan jauh hari sebelum Jumenengan. Para penari berlatih bersama pengrawit dari Puro Mangkunegaran.

Dalam acara Jumenengan, Sri Paduka Mangkunagoro IX menganugerahkan gelar kebangsawanan kepada sembilan orang yang dinilai berjasa bagi Puro Mangkunagaran. Salah satunya adalah Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Condro Kirono yang mendapatkan gelar Kanjeng Pangeran Haryo (KPH), adapun istrinya Nursanti memperoleh gelar Kanjeng Raden Ayu (KRAy). Sedangkan pengacara Rudi Jauhari SH. mendapatkan gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT). Mewakili para wisudawan, beliau membacakan ikrar setia kepada NKRI dan setia kepada Sri Paduka Mangkunagoro IX.

Sri Paduka Mangkunagoro IX menganugerahkan gelar Kanjeng Pangeran Haryo kepada Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono

KPH Condro Kirono usai diwisuda sebagai sentana dalem mengatakan, saya berasal dari Solo, sebagai warga negara saya ingin melestarikan budaya nasional khususnya Jawa yang bersumber dari Puro Mangkunegaran.

“Kepemimpinan Pangeran Sambernyowo pendiri Mangkunegaran dengan semboyan, rumangsa handarbeni dan mulat sarira hangrasa wani menginspirasi saya untuk memimpin lebih baik”.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*