Puro Mangkunagaran, atau Istana Mangkunegaran adalah istana resmi Kadipaten Praja Mangkunegaran dan tempat kediaman para penguasanya>

Umbrella Fashion di Puro Mangkunegaran

Ikon FPI 2017 GRAJ. Ancillasura Marina Sudjiwo mengenakan kostum Bohemian Nusawastra karya Dian Oerip
Ikon FPI 2017 GRAJ. Ancillasura Marina Sudjiwo mengenakan kostum Bohemian Nusawastra karya Dian Oerip

Festival Payung Indonesia 2017 bertema Sepayung Indonesia digelar di Puro Mangkunegaran Solo Jumat hingga Minggu, 15- 17 September 2017. Pada Sabtu malam, 16 September 2017 digelar peragaan busana. Ini merupakan rangkaian acara Festival Payung Indonesia 2017. Adu kreativitas empat desainer Indonesia tersaji di hari kedua festival. Pendopo Ageng Pura Mangkunegaran berubah wajah menjadi panggung utama peragaan busana bertajuk Umbrella Fashion.

Di bawah sinar lampu kristal Puro Mangkunegaran, desainer Rory Wardana (Solo), Maharani Setyawan (Klaten), Ofie Laim (Bandung), dan Dian Oerip (Jakarta) menampilkan rancangan yang menunjukkan kecintaan mereka pada wastra Nusantara. Rory Wardana membuka peragaan busana dengan tujuh rancangan bertema Jiwaku. Desainer muda ini menampilkan kebaya modern yang dipadukan dengan kain khas Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, Bali, Jogja, Cirebon, dan Jawa Tengah.

Kain lurik karya desainer Maharani Setyawan
Kain lurik karya desainer Maharani Setyawan

Presentasi unik lain ditampilkan desainer Dian Oerip. Ia menggandeng koreografer sekaligus penari Dhea Fandari bersama timnya untuk menampilkan sembilan rancangan bertema Riding The Wave. Desainer yang hobi menjelajah Nusantara untuk berburu wastra tradisional ini mengeksplorasi kain tenun khas Sumba untuk berkarya.

Busana Dian Oerip secara spesial juga dibawakan secara apik oleh Salini Rengganis dan ikon FPI 2017 putri Sri Paduka Mangkunagoro IX, GRAj. Ancillasura Marina Sudjiwo. Bebunyian musik latar yang berpadu dengan suara ombak laut, derap langkah kuda, tambur, dan tiupan peluit, mengiringi pertunjukan kolaborasi tari-fashion.

Dian meminimalkan jahitan dan mengaplikasikan teknik tanpa potong kain untuk memberikan penghormatan kepada para penenun Sumba yang mengolah kain dengan segenap hati. Sebagai konsekuensi, Dian menggunakan teknik ikat dan lilit. Kreativitas memadupadankan kain pemilik brand Oerip Batik itu terlihat lewat caranya memainkan kontras dan motif tenun. Hasilnya, sebuah rancangan tumpang tindih yang primitif namun artistik ala Boheimian.

Ikon FPI 2017 GRAj. Ancillasura Marina Sudjiwo mengenakan kostum karya Ofie Laim
Ikon FPI 2017 GRAj. Ancillasura Marina Sudjiwo mengenakan kostum karya Ofie Laim

Ada juga rancangan bertema Secret Garden-Treasure Hunt yang diusung desainer Ofie Laim. Ia membuat rancangan gaun bergaya kolonial khas noni Belanda menggunakan material batik lawasan. Rancangan Ofie didominasi batik berwarna pastel yang lembut. Nuansa feminin kian kental dengan bumbu tulle, renda, dan aplikasi bordir. Ia memainkannya sebagai tambahan untuk membuat presentasi ultra romantis. Salah satu rancangannya menampilkan dress batik antik peranakan Tiongkok khas pesisiran.

Peragaan busana malam itu juga menampilkan lurik khas Klaten kreasi Maharani Setyawan. Ia mengubah wajah kain bermotif utama garis yang digunakan sejak abad ke-9 itu lebih modern menjadi short pants, atasan penguin, dress berlengan cape, hingga terusan dengan lengan terompet ultra lebar.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*